KUNJUNGI WEB SAYA

Showing posts with label Code. Show all posts
Showing posts with label Code. Show all posts

Bagaimana Memasang Iklan Ditengah Posting Blog

Bagaimana Memasang Iklan Ditengah Posting Blog
Caranya mudah, sepertinya ini artikel ulasan dari tahun sebelumnya.
Semoga tips kali dapat menambah penghasilah sobat di google adsense :D
masuk ke edit template, jangan lupa backup untuk jaga2, tapi saya yakin kali ini tidak akan gagal karena saya sudah mencoba sendiri.
centang expand widget

cari kode <data:post.body/> jika ditemukan kode tersebut ada 2 atau tiga pilih kode yang kedua seperti pada template saya ini
hapus kode <data:post.body/> kedua dan gantikan dengan kode dibawah ini



<div expr:id='"iklan1" + data:post.id'></div> <div style="clear:both; margin:10px 0"> <!-- Kode Iklan yang sudah diparse --> </div> <div expr:id='"iklan2" + data:post.id'> <data:post.body/> </div> <script type="text/javascript"> var obj0=document.getElementById("iklan1<data:post.id/>"); var obj1=document.getElementById("iklan2<data:post.id/>"); var s=obj1.innerHTML; var t=s.substr(0,s.length/2); var r=t.lastIndexOf(" "); if(r>0) {obj0.innerHTML=s.substr(0,r);obj1.innerHTML=s.substr(r+1);} </script> 

itu code iklan yang sudah di pharse, silahkan pharse dulu disini Terus <!-- kode iklan yang sudah diparse -->
hapus dan ganti dengan kode iklan anda tentu saja yang sudah di parse, untuk parse iklan html silakan kunjungi DISINI
kalo sudah jangan lupa save template

Apa itu Router dan untuk memahaminya bagaimana

Apa itu Router dan untuk memahaminya bagaimana
Router : Router, digunakan untuk menyambung 2 jaringan yang berbeda. Sebagai contohnya, untuk menyambungkan antara LAN dengan Internet diperlukan adanya router sebagai jembatan dari 2 jaringan tersebut. Kedudukan router biasanya diletakkan sesudah modem, kira-kira gambarannya adalah seperti ini.

Internet - Modem - Router - LAN

Gateway : Gerbang penantian menuju internet. Masing-masing client/workstation dalam jaringan melewati gateway terlebih dahulu untuk menuju internet.

Firewall : Biasanya dipasang diantara internet dan router. Firewall berfungsi sebagai tembok keamanan untuk jaringan dalam [ LAN ]. Didalamnya biasanya terdapat fasilitas, firewall, logging, snort. etc.

Contoh router phisik multifungsi seperti itu adalah Cisco Router. Tetapi saya lebih cenderung memakai alternatif router yaitu menggunakan Smoothwall. Karena smoothwall hanya memerlukan komputer butut yang sudah lama tidak terpakai dengan harddisk sekitar 300 mb, dan tentunya 2 lan card.
Smoothwall adalah distro linux khusus yang didesain untuk menangani masalah router, firewall, dan gateway. Selain itu Router pun digunakan untuk menyambungkan 2 LAN, yang berbeda subnet masknya. Lebih kearah Intranet.

Switch : Biasanya switch banyak digunakan untuk jaringan LAN token star.

Dan switch ini digunakan sebagai repeater/penguat. Berfungsi untuk menghubungkan kabel-kabel UTP ( Kategori 5/5e ) komputer yang satu dengan komputer yang lain. Dalam switch biasanya terdapat routing, routing sendiri berfungsi untuk batu loncat untuk melakukan koneksi dengan komputer lain dalam LAN.


Hub    : Sama seperti switch, tetapi perbedaannya adalah hub tidak memiliki faslitas routing. Sehingga semua informasi yang datang akan dikirimkan ke semua komputer (broadcast)

REPEATER (bekerja pada Physical Layer)
Digunakan untuk mengatasi keterbatasan (jarak, kualitas sinyal) fisik suatu segmen jaringan.
Dapat juga digunakan untuk menggabungkan beberapa segmen suatu jaringan yang besar (misalnya Ethernet to Ethernet)
Namun dalam membangun jaringan fisik yang besar, perlu diperhatikan bahwa aturan panjang kabel maksimum tidak dapat dilampaui dengan menggunakan repeater ini. Contohnya, kabel coaxial 50 ohm pada Ethernet hanya bisa total sampai 2,3 km dan batasan ini tidak dapat diatasi dengan menggunakan repeater.

Karena bekerja pada physical layer, repeater tidak dapat menghubungkan misalnya antara protokol data link layer yang berbeda (misalnya Ethernet dengan Token Ring). Hal ini disebabkan karena repeater mempunyai bit korespondensi dengan data link atau network layer.
Hub mempunyai fungsi sebagai repeater, oleh karena itu hub kadang juga disebut sebagai multiport/modular repeater.

Harap diperhatikan, penggabungan dua atau lebih segmen network dengan menggunakan repeater akan mengakibatkan seluruh traffic data akan menyebar ke seluruh jaringan, tanpa memandang apakah traffic data tsb diperlukan atau tidak di seluruh jaringan. Jika jumlah station semakin banyak, dan traffic data sangat tinggi, maka beban pada backbone jaringan tentunya akan menjadi berat. Akhirnya kinerja jaringan akan menurun, dan kelambatan akses akan terasa.

Untuk itulah dalam merancang sebuah network, seorang network administrator memerlukan pengetahuan dan antisipatif terhadap beban jaringan yang akan terjadi.
Pengetahuan tentang topologi fisik, logic, manajemen traffic jaringan, jenis dan karakteristik protocol pada masing-masing physical sampai dengan application layer sangat diperlukan.

BRIDGE - bekerja pada Data Link layer (2)
Bridge mengatur (melalui filtering atau forwarding) frame data per segmen, sehingga jika w/s 1 akan mengirim data ke w/s 2, frame tidak akan diteruskan (forward) ke segmen 2. Hal ini mengakibatkan beban jalur setiap segmen menjadi optimal, dan overhead traffic pada setiap segmen dapat dikurangi.
Sekarang kita bahas mengenai jenis-jenis bridge.

Transparent Bridge
Melakukan bridging antara 2 atau lebih segmen LAN. Jenis bridge ini juga dapat melakukan bridging pada jenis media physical layer yang berbeda (UTP, coax, fiber dll). Pengaturan bridge jenis ini dapat dilihat pada dokumen standar IEEE 802.1D.

Translating Bridge
Adalah jenis bridge yang mampu untuk melakukan bridging antar protocol pada data link layer (contoh Ethernet dengan Token Ring). Dengan demikian terjadi proses konversi jenis frame data dan transmission rate masing-masing protocol. Proses ini dilakukan pada preamble dan FCS (frame check sequence).
Pada bagian lain kita akan membahas pula bagaimana menghitung performance network dalam hubungannya dengan penerapan kedua jenis bridge ini.

Masalah yang ada pada segmentasi Ethernet
Dasar dari dibaginya sebuah network dalam beberapa segmen yang menggunakan bridge mengacu pada rancangan topologi jaringannya. Misalnya dalam sebuah network yang terdiri dari departemen A dan B, maka untuk mengurangi overhead traffic jaringan secara keseluruhan dibuatlah segmen fisik A dan B. Dengan tujuan agar traffic pada segmen A jika tidak diperlukan ke segmen B, benar-benar hanya berlalulalang di segmen A saja.

Telah kita ketahui bahwa bridge melakukan filtering dan forwarding frame pada masing-masing segmen nya yang menimbulkan konsekuensi jika filtering dan forwarding rate menjadi besar maka akan mempengaruhi kinerja jaringan secara keseluruhan.
Teknologi switching hub menjawab permasalahan ini dengan cara kerja sebagai berikut:
Saat sebuah node akan berhubungan dengan node lain yang berbeda segmen, peralatan ini akan menjadi bridge dan membuka sebuah jalur langsung ’sementara’ dengan acuan source dan destination address Ethernet nya.

Switching hub bekerja pada Ethernet MAC (Media Access Control) sublayer.
Setiap port pada hub jenis ini dapat menjamin throughput nya tetap 10 Mbps. Karena jika pada hub non switch, jika terdapat misalnya 8 port Ethernet, maka dalam hitungan mudahnya setiap port akan hanya memperoleh 10 Mpbs / 8 port = 1,25 Mbps.
Switching hub
Switching hub bekerja pada Ethernet MAC (Media Access Control) sublayer :
    • Diagram hubungan antara OSI dan IEEE 802 standar
    • MAC = Media Access Control
    • 802.3 - CSMA/CD (di Ethernet)
    • 802.4 - TOKEN BUS
    • 802.5 - TOKEN RING
    • 802.6 - DQDB MAN (Distributed Que Dual Bus Metropolitan Area Network)

Buffering pada switch
Pada switch hub digunakan minimal sebuah CPU dan memory untuk melakukan packet buffering. Sebuah switch mampu menerima semua paket data dalam koneksi yang ada secara serentak. Kemudian paket data diteruskan hanya kepada alamat tujuan (destination address).

Setiap paket berisi dua MAC layer address yaitu alamat pengirim (source) dan tujuan (destination). Switch akan menyimpan dalam sebuah tabel MAC address yang digunakan untuk mencocokan koneksi yang harus dilakukan. Penggunaan tabel ini juga untuk menentukan kemana paket data harus dikirim. Jumlah tabel MAC address biasanya juga terdapat dalam spesifikasi switch, yang dapat mencapai ribuan alamat.

Faktor lain yang perlu diperhatikan adalah kapasitas memory dalam switch. Karena perlu diingat pula bahwa bentuk lalu lintas paket data dapat dibagi dua golongan yaitu : peer to peer/point to point dan satu ke banyak koneksi (one to many, misalnya w/s ke server).
Beberapa teknik yang digunakan pada switching hub:

internal bus - pada high end switch -> gigabytes

shared memory / packet bus

memindahkan satu koneksi dalam switch ke koneksi lain

Parameter penting lainnya adalah ukuran packet per second (pps). Sebagai contoh sebuah merk switching hub dapat memproses sampai dengan 150.000 pps pada koneksi 100baseT (fast ethernet) dan 1/10 nya pada koneksi 10baseT.

Metode kerja switching
Cut through, yaitu menentukan route paket yang diterima langsung ke alamat port tujuan. Tentu saja hal ini akan meningkatkan throughput koneksi dan mengurangi latency pengiriman paket. Cara kerjanya adalah, ketika sebuah bagian paket diterima, langsung route dan pengiriman dilakukan ke alamat tujuan. Proses ini tidak dilakukan dengan cara mengumpulkan terlebih dahulu seluruh paket, baru kemudian dikirim. Jika koneksi tujuan sedang digunakan, switch akan menampung paket data yang diterima tsb pada buffer. Dan paket data akan dikirim dari buffer jika koneksi tujuan telah kosong.
Potensi terjadinya network overhead dapat terjadi ketika network digunakan pada aplikasi yang bersifat mem-broadcast paket data, misalnya network games. Switching dapat digunakan
untuk mengatasi masalah ini, melalui pembatasan jalur spt telah diterangkan di atas (lihat juga posting sebelumnya). Adapula switching hub yang dapat diatur pembatasan distribusi paket broadcast ini.

Aplikasi dan disain jaringan dengan switch
Sebuah server yang menangani berbagai workstation, biasanya menggunakan beberapa network interface card (NIC) yang diatur segmentasinya berdasarkan aplikasi jaringannya, misalnya per departemen. Sebagai alternatif lain, cara seperti ini dapat dilakukan pula dengan lebih mudah dan efektif dengan menggunakan switching hub.

Contoh kasus dalam disain:
Dalam skenario di bawah ini, masing-masing workstation masih menggunakan ethernet card 10baseT (10 megabits per second).

Koneksi Fast Ethernet 100baseT digunakan untuk server, sedangkan port lainnya digunakan untuk dihubungkan dengan 2 buah hub 10baseT. File server sesuai dengan fungsinya akan menerima dan mengirim data pada rate yang sangat tinggi, sedangkan workstation akan mengirim paket data dengan kemungkinan (probabilitas) tanpa terjadinya collision. Skenario seperti ini biasanya akan memperbaiki kinerja jaringan secara keseluruhan. Mengapa? Karena jika segmen jaringan mempunyai kapasitas yang sama, throughput dari switch hub ke file server masih lebih tinggi dibandingkan dengan hub pada level di bawahnya. Dan switch dapat secara langsung melakukan routing packet dalam segmen fisik jaringan secara lebih cepat.

Switch dan Virtual LAN (VLAN)

Teknik switching hub yaitu melakukan routing packet Ethernet berdasarkan source dan destination address nya.

Mengapa diperlukan segmentasi atau partisi dalam jaringan? Pertimbangannya adalah : 1) Keamanan (security), 2) Kinerja jaringan.
Security diperoleh dari pembatasan akses ke suatu server dengan pembatasan routing paket data. Kinerja dapat dipertahankan dengan mengatur routing packet, khususnya broadcast packet dalam suatu VLAN.

Lalu bagaimanakah menggabungkan keduanya dalam suatu skema yang simpel yang juga memudahkan topologi fisik suatu jaringan? Teknik VLAN dapat diterapkan untuk ini, karena VLAN dapat membuat suatu segmentasi logic dalam suatu jaringan.

VLAN dapat melakukan partisi/segmentasi dengan dua cara yaitu berdasarkan nomor port pada switching hubnya atau alamat MAC dari workstation-nya.
Perlu diketahui bahwa TIDAK semua switching hub dapat melakukan VLAN, apalagi jika beberapa switching hub saling dihubungkan. Walaupun dari merk yang sama, ada atau tidaknya kemampuan ini perlu diteliti terlebih dahulu.

Kapan menggunakan switch dan router?
Kapan menggunakan switch dan router adalah pertanyaan yang selalu menggelitik bagi para network manager dalam merancang suatu jaringan. Rangkaian tulisan ini mencoba mengupas secara gamblang tentang berbagai aspek yang menyangkut penggunaan switching hub dan router.

Perbedaan mendasar antara switch versus router dan bridge adalah router dan bridge menggunakan metode ’store and forward’. Sedangkan switch bekerja dengan cara on the fly switching. Router mengambil seluruh paket sebelum paket tersebut diteruskan ke tujuan. Metode store and forward membawa seluruh frame data ke dalam peralatan, yang kemudian di-buffer untuk dalam sebuah satuan waktu. Akan lebih jelas jika kita memperhatikan TCP/IP layers, seluruh frame header akan melewati layer data link kemudian dibawa ke layer di atasnya yaitu network layer untuk diketahui tipe dari frame nya. Baru kemudian diteruskan ke alamat network yang dituju melalui data link layer kemabli. Proses ini berlaku untuk seluruh frame yang melintas di router.

Lain halnya dengan switch yang hanya mengambil 20 byte pertama dari sebuah frame. Karena switch tidak mengambil seluruh frame, namun hanya pada alamat tujuan (destination address) sebelum meneruskan frame tersebut ke alamat tujuan, maka network latency atau jeda (delay) yang terjadi akan menjadi lebih kecil dibandingkan dengan router.

Secara kalkulatif, per frame mempunyai delay selama 30 microsecond menuju dan keluar dari switch. Untuk bridge dan router, latency yang ditimbulkan dapat mencapai lebih dari 2000 microsecond per frame untuk dapat melakukan koneksi pada secara timbal balik.

Untuk menentukan cara apakah yang akan dipakai, diperlukan perencanaan yang matang khususnya dalam menganalisis volume lalu-lintas data dalam LAN dan WAN (lihat seri tulisan ini berikutnya mengenai cara menghitung estimasi volume traffic pada jaringan). Apalagi jika jaringan akan digunakan untuk keperluan Intranet yang mempunyai banyak workstation/client dengan berbagai aplikasi termasuk multimedia, sudah barang tentu traffic dalam jaringan LAN akan menjadi sangat besar. Dengan demikian potensi terjadinya latency atau delay juga akan semakin besar. Akhirnya kinerja jaringan secara keseluruhan akan tidak optimum dan end-user akan mengatakan bahwa aksesnya lambat!
Perlu juga digarisbawahi bahwa switch dapat memecahkan masalah jika memang masalah disebabkan oleh bottleneck jaringan khususnya pada layer data link. Karena lambatnya akses data/informasi pada jaringan sangat mungkin juga disebabkan oleh faktor kinerja dari server, disk atau aplikasinya.

Cara kerja switch
Jika akan menggunakan switching hub, diperlukan beberapa informasi dasar untuk menentukan pilihan switch, yaitu dengan mengetahui cara kerjanya.

- Cut through
Yaitu menentukan route paket yang diterima langsung ke alamat port tujuan. Tentu saja hal ini akan meningkatkan throughput koneksi dan mengurangi latency pengiriman paket. Pengiriman dilakukan tanpa terlebih dahulu mengumpulkan seluruh paket. Tetapi ketika alamat tujuan diketahui, langsung route dan pengiriman dilakukan ke alamat itu. Untuk satu paket Ethernet (1518 byte) proses ini memerlukan waktu hanya selama 40 microsecond. Dalam keadaan koneksi tujuan sedang digunakan, switch akan menampung paket data yang diterima untuk dimasukkan ke dalam buffer. Dan paket data akan dikirim dari buffer jika koneksi tujuan telah kosong.

- Store and forward
Cara kerjanya dilakukan dengan mengumpulkan seluruh paket hingga lengkap ke dalam memory switch dan melakukan pemeriksaan kesalahan dengan metode CRC (Cyclic Redundancy Check). Waktu yang diperlukan untuk melakukan proses untuk setiap paket Ethernet adalah 1,2 milidetik. Karena diperlukan memory yang cukup, ada potensi terjadinya latency dalam store and forward switch ini yang disebabkan oleh penuhnya memory yang ada untuk menampung seluruh paket dan tabel dari ntwork address.
Walaupun cara cut through akan mengurangi terjadinya latency, tetapi konsekuensinya, paket data yang rusak juga akan juga sampai ke alamat tujuan. Kebalikannya, hal ini tidak terjadi pada store and forward switch.

Dari kedua cara di atas, ada pula switch yang menggabungkan kedua cara tsb yang disebut hybrids. Pada saat awal menggunakan cara cut through switching, dan melakukan pemeriksaan CRC, kemudian menghitung jumlah error yang ada. Jika jumlah error telah sampai pada batas tertentu, switch akan bekerja dengan cara store and forward sampai dengan kondisi jumlah error telah berkurang. Selanjutnya switch akan kembali bekerja dengan cara cut through. Cara termudah untuk mengetahui adanya kemampuan ini adalah dengan melihat ada atau tidaknya keterangan threshold detection atau adaptive switch dalam spesifikasi teknisnya.

Layer 3 Switching (L3S)
Layer 3 switching atau IP switching yang diperkenalkan tahun 1997 adalah teknologi Ethernet switching yang menggunakan informasi IP address untuk menyeleksi dan menentukan jejak data dalam network.
Packet switching throughput dapat mencapai jutaan paket per detik (pps.) Secara hardware, router biasa mengandalkan kemampuan mikroprosesor dari mesin yang digunakan. Sedangkan Layer 3 switch menggunakan application-specific integrated circuit (ASIC) yang dapat menghasilkan thoroughput lebih tinggi.

Untuk mencapai unjuk kerja maksimum, selain penggunaan Layer 3 switching juga diperlukan faktor lain yaitu route processing dan intelligent network.


Untuk Melengkapi semua karya tulisnya silahkan berkomentar, saya nanti akan kasih link ebooknya untuk di download.

Script Zoom In, Zoom out button of zoom slider

Script Zoom In, Zoom out button of zoom slider
Untuk mengubah ukuran, lokasi dan label untuk slider zoom Anda dapat menggunakan pilihan di esri.config. Berikut ini adalah contoh yang mengubah lokasi dan ukuran :

function init() { //set position of slider at 10 pixels offset from right/top of map //set slider height to 100 pixels esri.config.defaults.map.slider = { right:"10px", top:"10px", width:null, height:"300px" };

Untuk script panah berikut dibawah adalah beberapa css yang mengubah gambar panah. Dalam hal ini saya memiliki script yang berisi dua panah (atas dan bawah). Posisi ditentukan untuk panah atas dan bawah menggunakan background-posisi menentukan lokasi gambar individu dalam script. Jika Anda menggunakan alat seperti ini untuk menghasilkan script itu akan menyediakan Anda dengan coords lokasi untuk masing-masing gambar yang terkandung.

Code : 
.claro .dijitSliderDecrementIconH, .claro .dijitSliderIncrementIconH, .claro .dijitSliderDecrementIconV, .claro .dijitSliderIncrementIconV { background: url("../images/arrows.png") no-repeat top left; border: 1px solid #B5BCC7; border-radius: 2px 2px 2px 2px; font-size: 1px; } .claro .dijitSliderDecrementIconV { background-position: 0 0; width:16px; height:16px; border: none; } .claro .dijitSliderIncrementIconV { background-position: 0 -66px; width:16px; height:16px; border:none; }  

Semoga membantu..

Flashdisk menjadi RAM (Memory ) Pada Komputer atau Laptop Anda

          Komputer semakin hari semakin kepayahan performanya ? Tambah saja RAM nya. Namun bagi kebanyakan orang harga RAM yang masih mahal membuat orang malas dan enggan menambah kapasitas RAM. Namun hal ini dapat diatasi dengan sebuah benda kecil yang hampir semua orang sudah memilikinya. Flashdisk. Dapatkah Flashdisk dibuat menjadi RAM? Jawabannya tentu saja bisa.
          Menambah RAM komputer/memory sekarang sudah tidak perlu mengeluarkan uang yang besar untuk membeli RAM. saya memiliki cara yang lebih murah, dengan sebuah software untuk merubah flashdisk menjadi RAM. Sebenarnya ini cara lama, namun apa salahnya saya share untuk yang belum tahu bahwa kita bisa menambah memory komputer tanpa harus membeli RAM yang harganya lumayan mahal.
          Untuk windows Vista ke atas sudah tidak perlu tambahan, tetapi untuk windows XP kalian memerlukan program tambahan namanya eBoostr. Konsep dasar eBoostr adalah membuat cache kedalam flashdisk yang tentunya kecepatan akses data untuk write/read lebih cepat ketimbang proses melalui hard disk.

Adapun syarat-syarat yang harus kalian penuhi untuk mendapatkan hasil maksimal adalah sebagai berikut :
1. Port USB 2.0 (kalau versi port USB kalian 1.1 bisa diatasi dengan membeli PCI to USB 2.0 card harganya murah sekitar 45-65 ribu Rupiah).
2. Flash Disk dengan kecepatan Read/Write minimal 20MBPS, lebih cepat lebih baik tidak perlu space yang sangat besar minimal 1GB saja sudah cukup, atau kalau kesulitan menemukan flash disk yang kecepatan read/write bagus silahkan cari flash disk dengan label “ReadyBoost“.
3. Software yang diperlukan. Ini juga bisa buat Laptop dan Notebook.

Oke sekarang kita lanjut kelangkah instalasi dan pembuatannya :
Saya jelaskan secara rinci dan saya sertakan Screen Shot agar lebih mudah dipahami. Klik gambar untuk memperbesar.

1. Download software yang diperlukan. Download DISINI
2. Extract file yang telah anda download.
3. Setelah anda extract, instal software : double klik file instal atau bisa dengan cara klik kanan-open. 
4. Selanjutnya ikuti langkah-langkah seperti pada gambar di bawah.
5. Instalasi selesai. Pada tahap ini komputer akan restar.
6. Pada saat komputer kembali menyala, program akan auto start, anda klik close.
7. Selanjutnya anda copy file eBoostrCP yg berada di folder Crack.
8. Paste eBoostrCP (Crack) ke folder C:/Program files/eBoostr.
9. Klik yes untuk mereplace file eBoostr.
10. Untuk mempermudah bila nantinya akan membuka program, klik kanan Send to-Desktop.
11. Saatnya kita merubah Flashdisk menjadi RAM. Buka aplikasi eBoostr. klik kanan-Open
12. Ikuti langkah-langkah seperti pada gambar.
13. Colokan Flashdisk ke port USB. Lihat icon eBoostr dikanan bawah taskbar. kalo punya saya diatas. klik kanan icon Open Control Panel.
14. Maka akan terbuka eBooster Control Panel. klik Configure untuk memilih Removable dan setting size.
15. Pilih drive removable : contoh F, tergantung di directory mana flashdisk berada. Dan centang kotak Use this device for caching untuk menentukan berapa size yang akan dialokasikan atau kita pakai.
16. Setelah ditentukan sizenya kemudian klik Apply-Yes lalu klik OK. terlihat seperti pada gambar dibawah.
17. Tunggu beberapa saat karena proses Building cache sedang berjalan.
18. Selesai...system status kini aktive, itu berarti Flashdisk anda kini telah beralih fungsi menjadi RAM. klik x untuk menutup jendela program.
Rasakan perbedaannya sebelum dan sesudah di pasang eBoostr
Gimana gampang kan? dan lumayan bisa menghemat pengeluaran tanpa harus membeli RAM.
Oh ya sebagai catatan, Konsep dasar eBoostr adalah membuat cache, jadi ketika anda cek di system propertis, maka angka kapasitas RAM akan tetap sama dan tidak berubah.
Tapi secara tidak langsung eBoostr berperan untuk menambah kecepatan dan performa komputer saat running.
 
Sumber : Disini

Melacak kesalahan -2147217843/[ODBC Frebird Driver]

Melacak kesalahan -2147217843/[ODBC Frebird Driver]
PDO ( PHP Data Object) adalah ekstensi database yang berfungsi sebagai pustaka/library untuk koneksi ke database dengan bahasa pemrograman PHP. PDO adalah ekstensi database yang portable untuk berbagai macam database yang ada saat ini, seperti :

  • DBLIB: FreeTDS / Microsoft SQL Server / Sybase
  • Firebird (http://firebird.sourceforge.net/): Firebird/Interbase 6
  • IBM (IBM DB2)
  • INFORMIX – IBM Informix Dynamic Server
  • MYSQL (http://www.mysql.com/): MySQL 3.x/4.0
  • OCI (http://www.oracle.com): Oracle Call Interface
  • ODBC: ODBC v3 (IBM DB2 and unixODBC)
  • PGSQL (http://www.postgresql.org/): PostgreSQL
  • SQLITE (http://sqlite.org/): SQLite 3.x
Berikut kode program untuk koneksi kedatabase dan simpan dalam file bernam dbkoneksi.php .
Koneksi ke MySQL http://dev.xbata.com/database/koneksi-database-dengan-pdo