Facebook : Benarkah Bentuk Pergeseran Cara Bersosial?

Saya sendiri baru-baru ini mengenal dan akrab dengan situs jejaring sosial ini. Ketika itu saya hanya membuka sepintas situsnya dan karena memang termasuk situs social networking, maka saya pikir mirip dengan Friendster.Com yang ketika itu masih sangat populer di negara saya, Indonesia.
Kini Facebook sudah sangat menjamur di Indonesia. Jika dulu saya hanya mendengar cerita tentang Facebook dari koran-koran yang mengisahkan pengungkapan kejahatan melaluiFacebook sampai kisah perjumpaan teman lama yang sudah bertahun-tahun berpisah akhirnya berkomunikasi kembali berkat Facebook, namun kini sayapun sudah menggunakanFacebook meskipun hanya sebatas mencari-cari teman yang sedang berselancar di dunia maya. Facebook dengan begitu cepat menggeser popularitas Friendster, bahkan pada saat saya menulis posting ini, di Indonesia Facebook berada padaranking pertama berdasarkan Alexa.Com dan mengalahkan Google.Com. Sebuah fenomena yang menakjukkan menurut saya. Facebook tidak hanya merambah kalangan muda mudi, tetapi juga orang tua.
Saya mengakui bahwa Facebook memang sangat hebat. Facebook memanjakan penggunanya dengan memberikan banyak fasilitas di dalam situsnya sehingga membuat orang betah berlama-lama nangkring di dalam situs tersebut. Mulai dari game online sampai fasilitas komunikasi seperti wall, pesan, dan yang paling utama adalah chatting. Hal ini yang menurut saya membuat orang lebih cepat tertarik menggunakan Facebook khususnya di Indonesia. Saya rasa memang ini tidak jauh dari tujuan orang menggunakan sebuah situs jaringan sosial, yaitu membentuk komunitas di dunia maya dan saling berkomunikasi. Di dalam proses membentuk komunitas dunia maya itulah kita sebagai pengguna menemukan nikmatnya mendapatkan teman bukan hanya teman sekolah, kuliah atau rekan kerja, tetapi teman dari daerah yang jauh dari tempat tinggal kita baik dalam maupun luar negeri. Dengan saling bertukar foto, video, dan saling berkomunikasi, jarak yang jauh itu tidak terasa dan seolah-olah sudah menjadi teman akrab. Hmm, internet memang memungkinkan banyak hal. Dari proses pembentukan komunitas itu pula kita tanpa sengaja ataupun dengan sengaja mencari dan menemukan sahabat ataupun saudara yang sudah lama tidak bertemu dan bisa berkomunikasi kembali meskipun lewat perantara Facebook. Facebook sudah menjadi sebuah portal yang mempertemukan banyak orang dari segala penjuru (fungsi sebuah social networking). Di dalam komunitas tersebut kita berinteraksi, saling mengirim pesan, wall, berdiskusi, sharing, dan tidak sedikit yang menggunakannya untuk PDKT sampai-sampai hasil Bahtsul Masail XI Forum Musyawarah Pondok Pesantren Putri Se-Jawa Timur mengharamkan Facebook (Jawa Pos, 23/5).
Yang inilah sebenarnya yang ingin saya bahas. Tetapi bukan mengenai pengharaman Facebook oleh pesantren Putri Jawa Timur itu ya, soalnya sudah banyak yang membahasnya, dan saya pribadi tidak terlalu ambil pusing mengenai itu, toh itu pendapat mereka. Tergantung kita memandang dari sisi mana. Dan saya akan mencoba menelaah dari sisi lain.
Sebenarnya bermula dari kegelian saya karena melihat jumlah teman di Facebook saya yang masih sangat sedikit jika dibandingkan dengan jumlah teman di Facebook ade saya yang sudah lebihdari 1500-an. Yang membuat saya semakin geli adalah bahwa kebanyakan teman-teman tersebut adalah teman kuliah yang masih sering bertemu secara offline. Kenapa saya merasa geli? Bukan karena saya sedang mengejek tetapi saya merasa kok saya ketinggalan banget ya. Ha3x. Mari kita telaah..
Komunikasi dalam bersosial
Komunikasi mutlak dibutuhkan untuk bisa saling memahami. Komunikasi tidak boleh lepas dari kehidupan kita dalam bersosial. Banyak cara yang bisa kita gunakan dalam berkomunikasi guna mendukung kehidupan bersosial kita. Mulai dari membentuk forum offline, arisan, nongkrong di warung, sampai menggunaan internet. Teknik-teknik berkomunikasi dalam bersosial juga banyak diajarkan oleh para pakarnya, mulai dari berkomunikasi dengan atasan, bawahan, orang tua, yang semuanya itu kita butuhkan karena kita sedang bersosial dengan mereka. Modernisasi memang membuat sebuah perubahan yang besar dalam kehidupan kita tak terkecuali perubahan dalam bersosial. Sekarang orang sudah lebih suka berkomunikasi lewat internet terutama lewatFacebook dari pada bertemu langsung di acara ulang tahun teman atau nongkrong di warung kopi. Semua mengatasnamakan kemudahan dan efisiensi.
Memang benar kita bisa dengan mudah berinteraksi tanpa harus pusing dengan jarak yang jauh. Benar juga kita bisa menghemat biaya karena tidak mengharuskan kita membeli kopi seperti ketika nongkrong di sebuah StarBucks. Tetapi perlu dicatat bahwa kemudahan itu bisa membuat kita lupa dengan kondisi ideal yang benar-benar nyata yang sedang kita hadapi. Saya mempunyai seorang kenalan yang sama-sama kuliah di ITS dan pernah sama-sama melakukan kegiatan di organisasi yang sama pula. Kalau dari segi gaya bolehlah dikatakan lebih unggul dibandingkan saya yang lebih suka apa adanya. Tetapi ada perbedaan lain diantara dia dan juga rekan-rekan yang lain dimana dia begitu pemalu dan sulit mengutarakan pendapatnya dalam setiap forum yang kami jalani. Setiap berbicara maka dia akan gugup dan terlihat tidak menguasai emosinya sehingga yang keluar dari mulutnya sering tidak runtut dari awal hingga akhir. Ketika berbicara santai dengan cewek-cewek cantikpun kegagahannya seakan tenggelam oleh kegugupannya. Hal ini berbeda jauh ketika kami sama-sama ngenet di kampus. Ketika itu dia membuka Facebook dan saya seperti biasa membuka situs-situs dewasa. Eits..Jangan negatif thinking dulu ya, dewasa karena situs yang saya buka bukan situs Majalah Bobo. Ha3x. Saya melihat dia tersenyum-senyum sambil chatting-an dengan seorang temannya di Facebook. Dengan begitu lincahnya beliau mengetikkan kalimat demi kalimat. Saya sebenarnya tidak ingin terlalu lama berspekulasi mengenai itu. Tetapi ketika  melihat kebiasaan teman yang lebih suka berkomunikasi lewat Facebook dibandingkan nongkrong di warung kopi, saya mulai bertanya-tanya, eh..eh..kok gitu sih, lo kok marah (lah..@!).
Bagian mana yang bergeser?
Saya melihat dan merasakan ternyata sekarang kita lebih suka ngobrol lewat internet dibandingkan ngobrol langsung, lebih pintar mengatur kata-kata jika berbicara lewat internet dibandingkan menggombal secara langsung, lebih nyaman berbicara di depan komputer dari pada mengeluarkan suara, dan intinya kita semakin lebih suka bersosial lewat situs jejaring sosial seperti Facebook dari pada bercanda di gazebo kampus atau warung kopi.
Sebenarnya saya tidak ingin mengatakan bahwa ini sebuah bentuk pergeseran cara bersosial.Tetapi saya ingin mengatakan bahwa kita tidak boleh lupa dengan kondisi ideal yang benar-benar nyata yang sedang kita hadapi sekarang. Kondisi ideal yang seperti apa? Kondisi dimana bahwa kita tidak selamanya berhadapan dengan seseorang dalam dunia maya. Di kampus kita kuliah tidak menggunakan sistem virtual sehingga harus berhadapan langsung dengan dosen dan membentuk kelompok belajar dengan teman. Untuk menyelesaikan tugas kuliah sampai dengan skripsi kita akan sering berdiskusi secara langsung dengan dosen. Di tempat kerja kita tidak sedang menjalankan sebuah sistem virtual perusahaan sehingga kita masih harus menghadapi atasan yang mungkin sering marah atau yang selalu main mata kepada kita. Kita juga masih perlu mendapatkan sesuatu yang menhgaruskan kita bekerja sama secara langsung, dan kredibilitas kita akan terlihat dari sejauh mana kita mampu berinteraksi khususnya berkomunikasi secara langsung sehingga meyakinkan orang lain bahwa kita adalah yang terbaik. Kita juga masih harus memimpin sekelompok orang secara langsung dan harus mengerti karakter mereka satu persatu karena kita tidak sedang memimpin sebuah kelompok di internet yang kita kenali hanya lewat foto atau video. Kita juga masih butuh berhadapan dengan tetangga yang mungkin mengajak pesta tapi tidak melalui internet. Dan masih banyak lagi, ya ng semuanya membutuhkan action kita secara nyata, bukan melalui perantarainternet apalagi sebuah situs jejaring.
Pilihan ada di tangan kita
Facebook memang memberikan banyak kemudahan dan manfaat, kita sama-sama mengakui itu. Tetapi masih sangat banyak hal yang tidak bisa kita dapatkan ketika bersosial melalui Facebookdibandingkan dengan bersosial secara nyata. Bersosial secata nyata (offline) bisa membentuk karakter kita sebagai seorang yang mampu memahami orang lain melalui tatapan mata, bahasa tubuh, dan ekspresi yang dikeluarkannya. Berinteraksi secara langsung akan melatih kita bagaimana menghadapi beratus macam karakter atau tingkah laku, keinginan, dan sifat nyata orang lain secara nyata. Bukankah lebih nikmat berjabat tangan dibandingkan mengetikkan kata “Hai..” melaluikeyboard komputer? Manfaat Facebook benar-benar nyata ketika ingin menyapa orang yang begitu jauh jaraknya, dan akan menjadi ironis jika kita lebih suka berkomunikasi dengan teman-temanFacebook yang sebenarnya masih sangat bisa kita temui di dunia nyata (seperti teman-temanFacebook saya yang kebanyakan adalah teman 1 jurusan).
Previous
Next Post »
0 Komentar

Terimakasih telah berkomentar