BMP ISIP4216 Metode Penelitian Sosial UT d2 Perpustakaan

KONSEP dan VARIABEL
1. Konsep
Secara umum konsep dapat diartikan sebagai ide, penggambaran atau deskripsi dari hal-hal atau benda-benda atau gejala-gejala sosial, yang dinyatakan dalam kata atau istilah. Ide, penggambaran, atau deskripsi benda-benda atau gejala-gejala sosial tersebut baru dapat dibuat dalam bentuk konsep jika sudah melalui proses abstraksi dan generalisasi. Abstraksi adalah suatu proses menarik intisari dari ide-ide, hal-hal, benda-benda, atau gejala-gejala sosial. Sedangkan generalisasi adalah suatu aktivitas menarik kesimpulan umum dari sejumlah ide-ide, hal-hal, benda-benda, atau gejala-gejala sosial yang khusus.

Karena konsep terbentuk dari abstraksi dan generalisasi, maka ciri suatu konsep adalah bersifat umum. Salah satu keuntungan dari ciri konsep yang bersifat umum adalah adanya kemungkinan bagi kita dalam menghadapi perubahan-perubahan yang terjadi pada penampilan konkret dari ide-ide, hal-hal, benda-benda, atau gejala-gejala sosial tanpa harus membuat suatu konsep baru.

Contoh, konsep handphone. Di pasar beredar banyak sekali merk, model, tipe, dan warna yang sangat sering berubah-ubah. Meskipun ada beragam merk, model, tipe, warna, dan teknologi yang digunakan, tetap saja semuanya bernama dan tidak keluar dari konsep handphone. Kalau toh ada perubahan nama, paling-paling nama handphone berubah menjadi mobilephone atau telepon seluler, yang semuanya tidak mengubah arti atau konsep handphone.

Konsep-konsep yang dipakai dalam Ilmu Sosial walaupun kadang-kadang istilahnya sama dengan yang digunakan dalam kehidupan sehari-hari, namum makna dan pengertiannya dapat berbeda-beda. Pada umumnya, konsep yang dipakai dalam ilmu sosial tidak berdiri sendiri tetapi berhubungan dengan konsep lain yang ada dalam suatu kerangka pemikiran atau pendekatan tertentu. Selain itu, dalam ilmu sosial juga sering terjadi perbedaan makna dan pengertian istilah yang dipergunakan oleh para ahli atau peneliti. Untuk menghindari kebingungan mengenai makna dan pengertian suatu istilah atau konsep itulah maka semua konsep itu harus didefinisikan. Jadi, definisi adalah pernyataan yang dapat mengartikan atau memberi makna suatu istilah atau konsep tertentu, atau suatu penggambaran keseluruhan isi dan arti yang dikandung oleh suatu konsep tertentu.

Mengingat definisi dibuat untuk menjelaskan suatu konsep agar dapat dimengerti secara tepat, maka pembuatan definisi haruslah hati-hati. Untuk membuat suatu definisi yang baik, hal-hal yang perlu diperhatikan adalah bahwa definisi:

    Tidak mengandung istilah atau konsep yang didefinisikan, atau mengandung istilah yang sinonim, atau istilah yang berhubungan erat dengan apa yang didefinisikan.

    Tidak dirumuskan dalam bentuk kalimat negatif.

    Dinyatakan dalam bahasa yang sederhana, jelas, dan rinci agar mudah dimengerti oleh orang lain.

    Variabel


Di dalam penelitian, konsep yang sudah didefinisikan tersebut harus dapat diamati dan diukur. Agar konsep tersebut dapat diamati dan diukur, maka konsep tersebut harus diubah lebih dahulu menjadi suatu konsep yang konkret yang dapat dioperasionalkan (sering disebut dengan operasionalisasi konsep). Konsep yang sudah lebih konkret ini dikenal dengan nama variabel, yaitu suatu konsep yang mempunyai variasi nilai.

Contoh, konsep ‘pendidikan formal’ sudah dapat dikatakan sebagai variabel karena memiliki variasi nilai SD,SMP,SMA, dan seterusnya. Konsep ‘badan’ belum dapat dikatakan sebagai variabel karena belum memiliki variasi nilai. Jika sudah diubah menjadi konsep ‘berat badan’ atau ‘tinggi badan’, maka konsep ini sudah dapat dikatakan sebagai variabel.

Variabel memiliki simbol atau lambang yang kita lekatkan yang berbentuk bilangan atau nilai. Misalnya, X adalah sebuah variabel. Jika X itu adalah variabel prestasi akademik misalnya, maka variabel ini dapat memiliki sebarang himpunan nilai, misalnya dari 1 sampai 10 atau 10 sampai 100. Tetapi jika variabel X itu adalah jenis kelamin, maka variabel tersebut hanya memiliki dua nilai, yaitu laki-laki dan perempuan. Nilai yang bisa dilekatkan misalnya 0 untuk laki-laki dan 1 untuk perempuan (boleh juga 1 dan 2, atau angka lain). Jika X adalah variabel tingkat penghasilan, maka variabel tersebut bisa memiliki tiga nilai yaitu tinggi, sedang, kurang. Nilai yang bisa dilekatkan kepada variabel tersebut misalnya (1) untuk tingkat penghasilan tinggi, (2) untuk tingkat penghasilan sedang, dan (3) untuk tingkat penghasilan kurang. Anda dapat mengembangkan contoh-contoh variabel yang lain.

Selain memiliki nilai, variabel dapat berbentuk variabel dikotomi , politomi, dan kontinyu.

Variabel dikotomi, adalah variabel-variabel yang hanya memiliki 2 nilai. Contoh: variabel jenis kelamin: laki-laki – perempuan; variabel pekerjaan: bekerja – tidak bekerja, variabel ukuran: besar – kecil; variabel kelulusan: lulus – tidak lulus, dan sebagainya.

Variabel politomi, adalah variabel yang hanya memiliki satu sifat, misalnya variabel agama: Islam, Katolik, Protestan, Budha, Hindu, Yahudi. Atau variabel kebangsaan: Indonesia, Malaysia, Cina, Inggris, Arab Saudi, dan sebagainya.

Variabel kontinyu, adalah variabel yang memiliki nilai kontinyu, misalnya variabel kecerdasan yang bisa dikelompokkan menjadi kecerdasan tinggi, sedang, rendah. Atau variabel tingkat penghasilan yang bisa dikelompokkan menjadi tingkat penghasilan tinggi, sedang, rendah, dan sebagainya. Variabel kontinyu dapat dikonversikan menjadi variabel dikotomi atau politomi, tetapi variabel dikotomi tidak dapat dikonversikan menjadi variabel kontinyu.

    Mengidentifiksi Variabel

Sebagaimana diuraikan dalam modul 3, variabel apa yang ada dalam suatu penelitian ditentukan oleh landasan teoretiknya, dan ditegaskan oleh hipotesis penelitiannya. Karena itu jika landasan teoretiknya berbeda, maka variabel-variabel penelitiannya juga akan berbeda. Jumlah variabel penelitian yang dijadikan objek penelitian akan ditentukan oleh sofistikasi desain penelitian; makin sederhana suatu desain penelitian makin sedikit jumlah variabel penelitiannya, dan sebaliknya makin kompleks desain penelitiannya makin banyak pula variabel penelitiannya. Misalnya suatu penelitian yang dimaksudkan untuk mengetahui perbedaan pengaruh bentuk insentif terhadap motivasi kerja karyawan. Dalam penelitian ini hanya melibatkan dua variabel utama yaitu variabel bentuk-bentuk insentif dan variabel motivasi kerja. Jumlah variabel itu akan bertambah jika peneliti juga mempertimbangkan tingkat kebutuhan (need) karyawan.

Kecakapan mengindetifikasi variabel penelitian adalah keterampilan yang berkembang karena latihan dan pengalaman, sehingga makin sering melakukan penelitian diharapkan makin tinggi keterampilan mengidentifikasi variabel penelitian. Keterampilan mengidentifikasi variabel penelitian juga dapat dikembangkan melalui kegiatan seminar-seminar usulan penelitian, di mana peneliti yang akan melakukan penelitian mempresentasikan lebih dulu usulan penelitiannya untuk dibahas bersama dan memperoleh masukan-masukan untuk penyempurnaannya.

4. Mengklasifikasi Variabel

Variabel-variabel penelitian yang sudah diidentifikasi perlu diklasifikasi. Ada beragam cara untuk mengklasifikasi variabel, antara lain:





1. Klasifikasi Variabel Berdasarkan Jenis Data

Klasifikasi variabel berkaitan dengan jenis data yang akan dikumpulkan pada dasarnya berkaitan dengan proses kuantifikasi. Dalam kaitannya dengan kuantifikasi, data biasa digolong-golongkan menjadi empat jenis, yaitu: (1) data nominal, (b) data ordinal, (c) data interval, dan (d) data ratio. Dengan demikian variabel penelitian dpat diklasifikasikan menjadi empat jenis, yaitu:

    Variabel nominal, yaitu variabel yang ditetapkan berdasar atas proses pengklasifikasian. Variabel ini bersifat deskrit dan saling pilah (mutually exclusive) antara kategori satu dengan kategori lainnya. Contoh variabel: jenis kelamin, jenis pekerjaan, status perkawinan.

    Variabel ordinal, yaitu variabel yang disusun berdasarkan atas jenjang dalam atribut tertentu. Jenjang tertinggi biasa diberi angka 1, jenjang di bawahnya angka 2, 3, dan seterusnya. Contoh: hasil perlombaan, rating, ranking.

    Variabel interval, variabel yang dihasilkan dari suatu pengukuran, yang didalam pengukuran itu diasumsikan terdapat satuan (unit) pengukuran yang sama. Contoh: motivasi kerja, sikap terhadap suatu kebijakan, penghasilan, dan semacamnya.

    Variabel ratio, yaitu variabel yang di dalam kuantifikasinya mempunyai nilai nol mutlak. dalam penelitian sosial, jarang sekali orang menggunakan variabel ratio.



2. Klasifikasi Variabel Berdasar Fungsinya dalam Penelitian

Menurut fungsinya di dalam penelitian, variabel dapat dibedakan dalam dua kelompok yaitu variabel tergantung (dependent variable) dan variabel bebas (independent variables)., Pembedaan ini didasarkan atas pola pemikiran sebab-akibat. Variabel tergantung dipikirkan sebagai akibat, yang keadaannya tergantung pada variabel bebas, variabel moderator, variabel kendali , atau variabel rambang. Variabel bebas dipikirkan sebagai sebab. Termasuk ke dalam kelompok variabel bebas adalah variabel kendali (kontrol), variabel moderator, dan variabel rambang. Dalam ilmu-ilmu sosial, hubungan antara kedua kelompok variabel (tergantung dan bebas) pada subjek penelitian seringkali terlihat sebagai proses. Artinya tidak selalu variabel bebas (sebab) secara langsung mengakibatkan munculnya variabel tergantung (akibat), tetapi seringkali pemunculan variabel tergantung diantarai lebih dulu oleh variabel yang lain (variabel antara atau intervening variable).

Pengklasifikasian variabel menurut peranannya dalam penelitian itu dimulai dengan mengidentifikasi lebih dulu variabel tergantungnya. Hal ini dilakukan karena variabel tergantung itulah yang menjadi titik pusat persoalan, yang karenanya seringpula disebut dengan kriterium. Misalnya usaha pengobatan, pokok permasalahannya adalah kesembuhan, usaha pertanian pokok permasalahannya adalah produksi pangan, usaha pendidikan pokok permasalahannya adalah hasil belajar, dan sebagainya.

Keadaan variabel tergantung itu dipengaruhi banyak sekali variabel yang lain. Satu atau lebih variabel-variabel yang lain itu mungkin dipilih sebagai variabel yang sengaja (direncanakan) dan dipelajari pengaruhnya terhadap variabel yang lain. Variabel inilah yang disebut variabel bebas. Misalnya variabel tergantungnya motivasi kerja, maka variabel bebasnya bisa berupa: bentuk dan besaran insentif, pengarahan atasan, kondisi kerja, fasilitas kesehatan, dan sebagainya. Di samping bentuk dan besaran insentif, pengarahan atasan, kondisi kerja, dan fasilitas kesehatan, masih banyak variabel lain yang juga bisa berpengaruh terhadap motivasi kerja. Misalnya tingkat pendidikan juga bisa berpengaruh terhadap motivasi kerja. Jika peneliti juga memasukkan variabel tingkat pendidikan sebagai variabel yang mempengaruhi motivasi kerja – tetapi tidak langsung – maka berarti peneliti meletakkan tingat pendidikan sebagai variabel moderator. Masa kerja , juga bisa menjadi variabel yang berpengaruh terhadap motivasi kerja. Tetapi misalnya peneliti ingin menetralisasi variabel ini – misalnya diambil kelompok masa kerja tertentu saja – maka masa kerja di sini berperan sebagai variabel kendali.

Variabel-variabel lain yang jumlahnya masih banyak mungkin dianggap pengaruhnya terhadap motivasi kerja tidak begitu signifikan, karena itu diabaikan. Variabel-variabel yang diabaikan pengaruhnya itu berperanan sebagai variabel rambang.

Sedangkan variabel-variabel lain yang ada dalam diri subjek yang dapat mempengaruhi motivasi kerja – yang keberadaannya hanya dapat disimpulkan berdasarkan pada variabel tergantung dan variabel-variabel bebas - maka variabel ini berperanan sebagai variabel antara (intervening variable) .

3. Klasifikasi Variabel Berdasar Posisi Variabel dalam Penelitian

Pengklasifikasian variabel ini terutama dilakukan pada penelitian eksperimental. Ada 2 klasifikasi variabel, yaitu variabel aktif dan variabel atribut. Variabel aktif (active variables) adalah variabel yang dimanipulasi. Sedangkan variabel atribut adalah variabel yang diukur. Manipulasi (manipulation) pada dasarnya adalah kegiatan memberikan perlakuan yang berbeda kepada kelompok yang berbeda. Misalnya kepada kelompok A diberikan perlakuan X, kepada kelompok B diberikan perlakuan Y, dan kepada kelompok C diberikan perlakuan Z, maka yang disebut variabel aktif atau variabel manipulasi adalah X, Y, dan Z.

Sedangkan variabel atribut adalah variabel-variabel yang tidak dapat atau setidaknya sulit dimanipulasi. Semua variabel karakteristik manusia,seperti kecerdasan, sikap, jenis kelamin, status sosio ekonomik, kebutuhan berprestasi, dan semacamnya adalah contoh variabel yang tidak dapat dimanipulasi. Variabel-variabel tersebut sudah ada pada diri subjek penelitian sebelum dia kita libatkan dalam penelitian kita dan tidak bisa kita ubah.

    Klasifikasi Variabel Berdasar Nilai yang Dilekatkan pada Variabel

Pengklasifikasian variabel ini penting terutama ketika peneliti merencanakan analisis data. Klasifikasi tersebut adalah variabel kontinyu (continuous variables) dan variabel kategorikal (categorical variables). Variabel kontinyu adalah variabel yang dapat dilekati nilai yang tersusun berurutan. Sedangkan variabel – biasa juga disebut dengan variabel nominal – adalah variabel yang dilekati kategori yang didasarkan pada definisi yang sudah dibuat atas variabel tersebut. Kategori yang dilekatkan adalah ’ada atau memiliki’ dan ’tidak ada atau tidak memiliki’ karakteristik yang didefinisikan tersebut. Misalnya variabel jenis kelamin: lelaki – perempuan, ras: kulit putih – kulit berwarna, status kerja: bekerja – tidak bekerja, status perkawinan: kawin – belum kawin, dan sebagainya.

Pengidentifikasian variabel bukanlah pekerjaan yang mudah dilakukan. Sering orang susah membedakan mana variabel tergantung dan mana variabel bebas, mana variabel kendali atau kontrol, mana variabel rambang, mana variabel moderator. Namun dengan latihan terus-menerus kesulitan ini akan dapat diatasi. Jadi sekali lagi, banyak-banyaklah berlatih melakukan penelitian (secara benar).

Sampai di sini Anda pasti sudah memahami secara lebih mendalam tentang variabel penelitian. Sekarang kita lanjutkan dengan materi langkah-langkah penelitian.

Langkah-langkah penelitian.

Secara umum pokok-pokok langkah-langkah penelitian itu adalah sebagai berikut:

1. Identifikasi, pemilihan, dan perumusan masalah.

2. Penelaahan pustaka atau landasan teori

3. Penyusunan hipotesis

4. Identifikasi, klasifikasi, dan penentuan definisi operasional

variabel-variabel.

5. Penyusunan desain penelitian

6. Pemilihan atau pengembangan alat pengambil data

7. Penentuan populasi dan sampel penelitian

8. Pengumpulan data

9. Pengolahan dan analisis data

10. Interpretasi hasil analisis data

11. Penyusunan laporan.


Selengkapnya, pelajari dari BMP ISIP4216 modul 3, Kb2.

Desain Penelitian

Setelah memahami variabel penelitian, marilah sekarang kita membahas tentang kegiatan persiapan penelitian berikutnya, yaitu tentang metode dasar dan desain peneltian. Dalam melakukan penelitian, orang dapat menggunakan berbagai macam metode, dan desain penelitian yang digunakan juga dapat beragam. Keputusan mengenai desain apa yang dipakai akan tergantung pada : tujuan penelitian, dan sifat masalah yang akan diteliti.

a. Tujuan Penelitian

Apabila tujuan penelitian sudah jelas dan spesifik, maka penelitian itu sudah memiliki ruang lingkup dan arah yang jelas, sehingga perhatian dapat diarahkan kepada ‘target area’ yang pasti.

b. Sifat Masalah

Sifat masalah akan memainkan peranan utama dalam menentukan cara-cara pendekatan yang cocok, dan akan menentukan desain penelitian yang akan digunakan. Saat ini bermacam-macam desain penelitian berdasar sifat masalah telah dikembangkan oleh para ahli, dan telah pula dibuat penggolongannya. Desain-desain penelitian yang disusun berdasar sifat-sifat masalah yang diteliti adalah sebagai berikut:



    penelitian historis

    penelitian deskriptif

    penelitian perkembangan

    penelitian kasus dan penelitian lapangan

    penelitian korelasional

    penelitian kausal komparatif

    penelitian eksperimental sungguhan (true experimental research)

    penelitian ekesperimental semu (quasi experimental research)

    penelitian tindakan (action research).


Selengkapnya, pelajari dari BMP ISIP4216, modul 4 Kb2.
Previous
Next Post »
2 Komentar
avatar
Anonymous 04:46:00
delete

terima kasih,ijin copybuat belajar. bisa menghemat mengurangi beli buku. cuma kalo bisa dikupas keseluruhan dalam satu buku jadi lebih mantap lagi

Balas
avatar

nanti saya posting lagi, dan mungkin tinggal download . ini lagi dalam proses pengetikan.

Balas

Terimakasih telah berkomentar