KUNJUNGI WEB SAYA

Showing posts with label Daftar Isi Blog Ini. Show all posts
Showing posts with label Daftar Isi Blog Ini. Show all posts

Ulangtahun blog ini dan sedikit tulisan

Hari ini Adalah Ulang tahun blog ini, usianya sudah ganjil 3 tahun, pengalamanku dengan blog ini sangatlah aku banggakan, karena selama 3 tahun ini saya selalu memberikan informasi yang saya dapatkan maupun itu dari browsing atau dunia nyata. Buatku Blog ini adalah inspirasi sebelum membuat blog sebelumnya dan sesudahnya, mau diterima atau tidaknya oleh pengunjung itu semua adalah suatu pencapaian buat saya, mungkin jika dikatakan sukses saya tak pernah ingin di sebut sukses. Kepengarangan blog ini adalah kerja besar. Bayangkan apabila angkatan muda pengarang Indonesia menulis tentang daerah masing-masing atau bekerja sama dengan pihak lain, menulis monografi daerah masing-masing. Menulis segala potensi di daerah. Dari hasil kekayaan alam, industri, kesenian dan kekayaan sumber daya manusia. Para sastrawan menulis dengan latar belakang budaya masing-masing. Akan sangat luar bias, tetapi saya disini hanya bisa membuat sesuatu yang saya ketahui dan yang saya alami..

Kita mengenal Umar Kayam menulis "Seribu Kunang-kunang di Manhattan". Menceritakan Marno yang kesepian di apartemennya bersama Jean, teringat seribu kunang-kunang di persawahan desanya di Jawa saat melihat kemerlap-kemerlip lampu-lampu di Manhattan. Atau Olenka (1983) karya Budi Darma yang mengeksplorasi arus bawah kesadaran semata. Sebagai novel saya kira berhasil. Tapi rapuh kesadaran geo-politik. Atau Pengakuan Pariyem karya Linus Suryadi AG, yang hanya mengeksploitasi fatalisme wanita Jawa, puisi lirik itu seperti suara gamelan yang lirih di tengah perang kode di zaman kita.

Masih dibutuhkan prosa atau puisi tentang kehidupan manusia Indonesia, dengan segala problematikanya, dengan topografi daerahnya masing-masing. Karya ini kelak menjadi ilham generasi berikutnya. Segala potensi dan masalah mendasar yang timbul di permukaan muncul dalam bentuk cerpen, novel, maupun puisi.

Karya sastra tidak hanya sebagai sebuah ekspresi individual, namun juga sebagai agen perubahan, dengan cara menuliskan kondisi objektif di tengah rakyat. Kerja pengarang adalah kerja besar, dengan berbagai risikonya. Apa yang dinamakan turun ke bawah (Turba) melihat kondisi masyarakat adalah bentuk amalan para pengarang untuk menuliskan kondisi masyarakat yang sesungguhnya. Hasilnya, sebuah karya sastra yang tidak klangenan, atau pemuas pembaca semata. Sebuah ekspresi dan perjuangan yang mendasar bagi eksistensi manusia.

Kritikus sastra HB Jassin, misalnya, dengan tekun mencatat perkembangan sastra yang muncul dari daerah-daerah terpencil di Indonesia. Sebagai editor di beberapa majalah dan berkala sastra, dia memuat karya-karya sastra dari (calon) pengarang dari berbagai pelosok daerah. Dengan majalah/berkala sastra yang diterbitkannya, HB Jassin mencatat atau mengomentari, dan memberi ruang bagi potensi sastrawan di daerah. Kita masih ingat buku Tifa Penyair dan Daerahnya (1952), antologi puisi dari sastrawan dari seluruh Indonesia.

Dari hasil karya, tentunya telah banyak yang diperbuat oleh budayawan ataupun seniman. Walaupun, masih perlu kita pertanyakan kembali jiwa kesenimannya. Terlalu sederhana mungkin pemikiran saya, seniman dengan kata dasar seni, yang identik dengan keindahan atau (mungkin) harmonisasi, tentu jauh dari sifat iri, sombong, merasa lebih baik dari orang lain, terlalu mengelu-elukan (berlebihan) dengan apa yang telah diperbuat, sehingga mengecilkan malah menghilangkan apa yang telah diperbuat orang lain.

Seniman tentu juga memiliki tingkat kesadaran tinggi. Apa yang telah diperbuat nya adalah hadiah kemanusiaan. Artinya, seorang seniman (seperti yang diungkapkan Togu Sinambela), misalnya seniman lukis merasa berdosa jika tidak melukis. Begitu juga seniman yang lain merasa miris dengan perekembangan seni yang berjalan di tempat, tetapi begitu ada keinginan untuk melakukan perobahan, jalan mereka menjadi buntu.

Pemerintah, Tokoh, Lembaga, dan lain-lain, selalu menjadi sasaran, ketika kegiatan seni man deg. Pertanda apa ini? Saya setuju seperti yang dikemukakan Saut, sebenarnya bukan persoalan eksternal yang perlu kita perbincangkan. Persoalan internal yang harus kita tanggulangi secara lebih serius. Selalu mengemukaka persoalan, bahwa seniman tidak perduli. Selalu muncul pertanyaan, mana seniman? Perlu dipertanyakan siapa yang memper tanyakan itu? Seniman?

Saya jadi teringat dengan ayam betina yang baru saja bertelur. Satu butir telurnya, tetapi hebohnya cukup memekakkan telinga satu kampung. Bayangkan, jika telur yang dihasilkan banyak. Berapa besar suara yang dihasilkan.

Begitupun seniman telur itu masih jauh lebih berarti dibandingkan seniman bunglon. Jika seniman angkat telur, jelas yang diangkatnya. Seniman pegang telur, jelas yang dipegangnya. Seniman selentik ataupun remas telur juga jelas. Seniman bunglon? Kita selalu ragu terkadang apakah dia seniman apa tidak. Karena setiap pergerakannya selalu dalam wilayah kepentingan. Seniman dalam rangka.

Cukup arif saya kira Idris Pasaribu dalam menutup diskusi sore itu. Biarkanlah mereka begini dan begitu asal jangan kita. Seniman yang dekat dengan pemerintahan, yang menggunakan uang rakyat untuk kebutuhan keluarganya, secara tidak langsung kita ikut membantu keberlangsungan hidup mereka. Berkaryalah. Biarkan karya yang bicara. Bukan demo. Bukan demonstrasi, karena toh di Sumatera Utara hal-hal seperti itu juga masih berbau kepentingan. Introspeksi kejelekan kita, pelajari kelebihan orang lain. Lebih baik berkarya daripada mencela. Bukankah begitu? Demikian.

Review 

Devil Online review

Devil Online review
In one scene, a superstitious security guard uses a slice of toast and jam to prove the existence of Satan

A supernatural thriller directed by John Erick Dowdle, Devil is based on a story by M Night Shyamalan. Is it as diabolical as The Last Airbender? Ryan finds out...



As movie premises go, Devil’s sounds like the Hollywood equivalent of chat show host Alan Partridge’s desperate cry of “Monkey tennis!” when faced with the task of coming up with a good idea for a television series.

You can imagine M Night Shyamalan (upon whose concept Devil's script is based) in the meeting, the gears of his brain grinding as he cobbled the story together on the spot. “It’s about five people... trapped in a lift, with, erm, erm... LUCIFER!”

But as daft as the premise sounds, I was thoroughly prepared to give Devil a fair chance. It wanders so close to the brink of self-parody, I thought, that there’s the outside chance that director John Erick Dowdle (Quarantine) could pull a respectable movie out of it.

After all, the master of duvet-shredding fear, M.R. James, span incredibly scary stories out of the most ridiculous scenarios imaginable. One of his most nerve-jangling confections is based on the unlikely concept of a haunted whistle. That’s up there with ‘Satan’s dressage’ and ‘evil Austin Allegro’ in the list of non-threatening ghost story ideas, but thanks to the author’s razor-sharp prose, it proves to be one of the most pyjama-soiling tales of the supernatural ever written.

So, despite the downward trajectory of Shyamalan’s movie career of late, which culminated with this summer’s turkey-in-stereoscope The Last Airbender, I wandered into a public screening of Devil free from prejudice.

If you’ve seen the trailer, you’ll have a good idea of the plot: five people, trapped in the confines of a malfunctioning lift, gradually begin to suspect that one of their number is not who they appear.

There’s nervy, claustrophobic security guard, Ben (Bokeem Woodbine), a shifty mechanic (Logan Marshall-Green), a sweet old lady (Jenny O’Hara), an enigmatic younger lady (Bojana Novakovic) and a sleazy salesman, who looks like the alien from Mac And Me in a black wig (Geoffrey Arend).
And as the lift muzak drones on and unexplainable events begin to mount up, the level of paranoia among the prisoners reaches boiling point.

Outside, Detective Bowden (Chris Messina), an ex-alcoholic still recovering from the hit-and-run death of his wife and child five years earlier, is investigating an apparently unrelated suicide. Some desperate soul, still clutching his rosary beads, has taken a swan dive from a top storey window of the selfsame building with the malfunctioning lift, and now lies embedded in the roof of a delivery vehicle.

But as the tense stand-off in the stricken elevator slides into murderous anarchy, Bowden is drafted in to find out the identities of the people inside, and work out exactly what evil forces are at work among them.

From the wide, off-kilter opening shot of Philadelphia, Dowdle shoots Devil with surprising surety and panache. Like a cut-price David Fincher, he deftly constructs an air of foreboding in potentially tricky circumstances, establishing the stifling environment of the lift with point-of-view shots and uncomfortably tight camera angles.

Brian Nelson’s screenplay is economically written, and wisely chooses not to take its daft premise too seriously, weaving in a few moments of levity between the flashes of evil. In one scene, a superstitious security guard uses a slice of toast and jam to prove the existence of Satan.

The cast of largely unknown actors acquit themselves well, and while Messina makes for an unusually clean cut recovering booze hound, he’s sympathetic and believable as the cop unwittingly caught in a dance with the Devil himself.

There are, however, a few problems.

Struggling with the inherently restrictive nature of Devil’s premise, which by itself would trap the audience in one location with five talking heads for 80 minutes, the film’s creators have added an extra plot strand, namely, Bowden’s detective work on the outside, in order to round the story out.

While we’re inside the lift, we’re in familiar horror territory, with all the trimmings: flickering lights, bulging eyes, bloody wounds. Outside it, we’re in the realms of an old-fashioned whodunnit thriller.

And while these two disparate genres are woven with a sure hand, the seam’s there for all to see. There’s probably an earlier draft of Devil’s script still languishing in a drawer somewhere, in which the viewer is trapped inside the lift with its prisoners and Old Nick for the entire film. It’s a movie that would never have seen the inside of a multiplex, but would have been more original and far scarier as a result.

Instead, the constant cutting back and forth between the sweating faces in the elevator and Bowden’s largely inconsequential detective work outside results in a film whose tension constantly rises, only to collapse back down again.
The filmmakers just about get away with the rather quaint religious underpinnings of Devil’s story, but its conclusion will probably leave most audience members, at best, rolling their eyes or, at worst, storming from the cinema with their fists clenched in frustration.

Devil certainly isn’t a terrible film, however, and it’s not the disaster that some have predicted, or even morbidly hoped. Where Shyamalan’s The Last Airbender was a lumpen, ill-conceived mess, Dowdle’s supernatural thriller is competently made and low-key.

Unfortunately, Devil’s modesty is its own undoing. Taken by itself, the ‘Lucifer in a lift’ premise would make an intriguing, dialogue-heavy stage play. Wrapped up as it is in a broader thriller plot, Devil feels more like the pilot episode of a supernatural television show than a multiplex popcorn movie. It looks lost on a big screen as a result, its 80 minute running time seeming desperately thin.

It’s likely that Devil will make a far more effective case for itself on DVD and Blu-ray, and taken as the first act in a three part story (it’s the first of Shyamalan’s planned The Night Chronicles trilogy, with Reincarnate reportedly on the way), could provide an entertaining but flimsy piece of movie diabolism.

But by itself, on a big screen, with the lights out, this manifestation of the Devil proves frustratingly muted, and far less scary than the thought of being trapped in a lift with M Night Shyamalan's recent back catalogue.

Info : http://www.denofgeek.com/movies/601406/devil_review.html

Peraturan Perlombaan

DAPATKAN UANG SECARA CUMA-CUMA KE PAYPAL ANDA DARI BLOGGER INI,,,
INI BUKAN SCAM, BUKAN JUGA BOHONG... ALSI 100% ....
karena saya aktif dalam marketing dan affiliate,, jadi saya ingin berbagi untuk kawan-kawan indonesia saya.
semata-mata ini untuk mengkritik kekurangan saya dari sudara melalui komentar-komentar saudara...

Peraturan, Yang harus dilakukan Saudara :
1. Hanya berkunjung dan posting komentar.
2. Sudara Click Adsense yang berada di sebelah kanan blog saya, hanya 1 kali satu hari.
3. Saudara Harus relevan dalam memposting, jangan asal-asalan.
4. Jika Saudara merasa menang dan telah posting banyak nanti setelah 2 bulan, saya harap saudara menghubungi email saya.


CATATAN : setiap postingan yang namanya Trik Blogger adalah Admin, jadi jangan di hiraukan karena admin tidak ikut lomba...
satu lagi robot adsense milik saya akan mendeteksi apakah saudara mengklik adsensenya atau tidak, itu akan di pertimbangkan.
Perlombaan ini dimulai pada tanggal 22 Mei Sampai 22 Juli Update, tidak ada pemenang ke 2.
terimakasih selamat berlomba...
Animasi untuk Top Award saya lagi membuatnya. jadi pemenang nanti akan mendapatkan animasi dari saya