Pengertian Sistem Informasi Geografis, SIG dan Mapserver

Sistem Informasi Geografis (Geographic Information System/GIS) yang selanjutnya akan disebut SIG merupakan sistem informasi berbasis komputer yang digunakan untuk mengolah dan menyimpan data atau informasi geografis (Aronoff, 1989).

Secara umum pengertian SIG sebagai berikut:

“Suatu komponen yang terdiri dari perangkat keras, perangkat lunak, data geografis dan sumberdaya manusia yang bekerja bersama secara efektif untuk memasukan, menyimpan, memperbaiki, memperbaharui, mengelola, memanipulasi, mengintegrasikan, menganalisa dan menampilkan data dalam suatu informasi berbasis geografis.”

Pada dasarnya SIG dapat dikerjakan secara manual. Namun dalam pembahasan selanjutnya SIG akan selalu diasosiasikan dengan sistem yang berbasis komputer. SIG yang berbasis komputer akan sangat membantu ketika data geografis yang tersedia merupakan data dalam jumlah dan ukuran besar, dan terdiri dari banyak tema yang saling berkaitan.

SIG mempunyai kemampuan untuk menghubungkan berbagai data pada suatu titik tertentu di bumi, menggabungkannya, menganalisa dan akhirnya memetakan hasilnya. Data yang akan diolah pada SIG merupakan data spasial. Ini adalah sebuah data yang berorientasi geografis dan merupakan lokasi yang memiliki sistem koordinat tertentu, sebagai dasar referensinya. Sehingga aplikasi SIG dapat menjawab beberapa pertanyaan, seperti lokasi, kondisi, trend, pola dan pemodelan. Kemampuan inilah yang membedakan SIG dari sistem informasi lainnya.
Telah dijelaskan di awal bahwa SIG adalah suatu kesatuan sistem yang terdiri dari berbagai komponen. Tidak hanya perangkat keras komputer beserta dengan perangkat lunaknya, tapi harus tersedia data geografis yang akurat dan sumberdaya manusia untuk melaksanakan perannya dalam memformulasikan dan menganalisa persoalan yang menentukan keberhasilan SIG.

1.2. Data Spasial
Sebagian besar data yang akan ditangani dalam SIG merupakan data spasial, data yang berorientasi geografis. Data ini memiliki sistem koordinat tertentu sebagai dasar referensinya dan mempunyai dua bagian penting yang berbeda dari data lain, yaitu informasi lokasi (spasial) dan informasi deskriptif (atribut) yang dijelaskan berikut ini :

    lokasi (spasial), berkaitan dengan suatu koordinat baik koordinat geografi (lintang dan bujur) dan koordinat XYZ, termasuk diantaranya informasi datum dan proyeksi.
    deskriptif (atribut) atau informasi nonspasial, suatu lokasi yang memiliki beberapa keterangan yang berkaitan dengannya. Contoh jenis vegetasi, populasi, luasan, kode pos, dan sebagainya.

1.2.1. Format Data Spasial
Secara sederhana format dalam bahasa komputer berarti bentuk dan kode penyimpanan data yang berbeda antara file satu dengan lainnya. Dalam SIG, data spasial dapat direpresentasikan dalam dua format, yaitu:

1.2.1.1. Data Vektor
Data vektor merupakan bentuk bumi yang direpresentasikan ke dalam kumpulan garis, area (daerah yang dibatasi oleh garis yang berawal dan berakhir pada titik yang sama), titik dan nodes (titik perpotongan antara dua buah garis).

Gambar 1 Data Vektor

Keuntungan utama dari format data vektor adalah ketepatan dalam merepresentasikan fitur titik, batasan dan garis lurus. Hal ini sangat berguna untuk analisa yang membutuhkan ketepatan posisi, misalnya pada basis data batas-batas kadaster. Contoh penggunaan lainnya adalah untuk mendefinisikan hubungan spasial dari beberapa feature. Namun kelemahan data vektor yang utama adalah ketidakmampuannya dalam mengakomodasi perubahan gradual.

1.2.1.2. Data Raster
Data raster (disebut juga dengan sel grid) adalah data yang dihasilkan dari sistem penginderaan jauh. Pada data raster, obyek geografis direpresentasikan sebagai struktur sel grid yang disebut dengan pixel (picture element).

Gambar 2 Data Raster

Pada data raster, resolusi (definisi visual) tergantung pada ukuran pixel-nya. Dengan kata lain, resolusi pixel menggambarkan ukuran sebenarnya di permukaan bumi yang diwakili oleh setiap pixel pada citra. Semakin kecil ukuran permukaan bumi yang direpresentasikan oleh satu sel, semakin tinggi resolusinya. Data raster sangat baik untuk merepresentasikan batas-batas yang berubah secara gradual, seperti jenis tanah, kelembaban tanah, vegetasi, suhu tanah dan sebagainya. Keterbatasan utama dari data raster adalah besarnya ukuran file. Semakin tinggi resolusi grid-nya, semakin besar ukuran filenya, dan ini sangat bergantung pada kapasitas perangkat keras yang tersedia.

Masing-masing format data mempunyai kelebihan dan kekurangan. Pemilihan format data yang digunakan sangat tergantung pada tujuan penggunaan, data yang tersedia, volume data yang dihasilkan, ketelitian yang diinginkan, serta kemudahan dalam analisa. Data vektor relatif lebih ekonomis dalam hal ukuran file dan presisi dalam lokasi, tetapi sangat sulit untuk digunakan dalam komputasi matematis. Sedangkan data raster biasanya membutuhkan ruang penyimpanan file yang lebih besar dan presisi lokasinya lebih rendah, tetapi lebih mudah digunakan secara matematis.

1.2.2. Sumber Data Spasial
Salah satu syarat SIG adalah data spasial. Ini dapat diperoleh dari beberapa sumber antara lain:

1.2.2.1. Peta Analog
Peta analog yaitu peta dalam bentuk cetak. Seperti peta topografi, peta tanah dan sebagainya. Umumnya peta analog dibuat dengan teknik kartografi, dan kemungkinan besar memiliki referensi spasial seperti koordinat, skala, arah mata angin, dan sebagainya.
Dalam tahapan SIG sebagai keperluan sumber data, peta analog dikonversi menjadi peta digital. Caranya dengan mengubah format raster menjadi format vektor melalui proses digitasi sehingga dapat menunjukan koordinat sebenarnya di permukaan bumi.


1.2.2.2. Data Sistem Penginderaan Jauh
Data penginderaan jauh, seperti hasil citra satelit, foto-udara dan sebagainya, merupakan sumber data yang terpenting bagi SIG. Karena ketersediaan data secara berkala dan mencakup area tertentu. Dengan adanya bermacam-macam satelit di ruang angkasa dengan spesifikasi masing-masing, kita bisa memperoleh berbagai jenis citra satelit untuk beragam tujuan pemakaian. Data ini biasanya direpresentasikan dalam format raster.

1.2.2.3. Data Hasil Pengukuran Lapangan
Data pengukuran lapangan merupakan data yang dihasilkan berdasarkan teknik perhitungan tersendiri. Pada umumnya data ini merupakan sumber data atribut, contohnya batas administrasi, batas kepemilikan lahan, batas persil, batas hak pengusahaan hutan, dan lain-lain.

1.2.2.4. Data GPS (Global Positioning System)
Teknologi GPS memberikan terobosan penting dalam menyediakan data bagi SIG. Keakuratan pengukuran GPS semakin tinggi dengan berkembangnya teknologi. Data ini biasanya direpresentasikan dalam format vektor. Pembahasan mengenai GPS diterangkan dalam subbab terpisah.

1.3. Peta, Proyeksi Peta, Sistem Koordinat, Survei dan GPS
Data spasial yang dibutuhkan pada SIG dapat diperoleh dengan berbagai cara. Salah satunya melalui survei dan pemetaan, yaitu penentuan posisi/koordinat di lapangan. Berikut ini akan dijelaskan secara ringkas beberapa hal yang berkaitan dengan posisi/koordinat serta metode-metode untuk mendapatkan informasi posisi tersebut di lapangan.

1.3.1. Peta
Peta adalah gambaran sebagian atau seluruh muka bumi baik yang terletak di atas maupun di bawah permukaan dan disajikan pada bidang datar pada skala dan proyeksi tertentu (secara matematis). Karena dibatasi oleh skala dan proyeksi maka peta tidak akan pernah selengkap dan sedetail aslinya (bumi). Untuk itu diperlukan penyederhanaan dan pemilihan unsur yang akan ditampilkan pada peta.

1.3.2. Proyeksi Peta
Pada dasarnya bentuk bumi tidak datar, tapi mendekati bulat. Maka untuk menggambarkan sebagian muka bumi untuk kepentingan pembuatan peta, perlu dilakukan langkah-langkah agar bentuk yang mendekati bulat tersebut dapat didatarkan dan distorsinya dapat terkontrol. Caranya dengan melakukan proyeksi ke bidang datar.

1.3.2.1. Pengelompokan Proyeksi Peta

1.3.2.1.1. Yang Mempertahankan Sifat Asli

    Luas permukaan yang tetap (ekuivalen)
    Bentuk yang tetap (konform)
    Jarak yang tetap (ekuidistan) Perbandingan dari daerah yang sama untuk proyeksi yang berbeda :

Gambar

1.3.2.1.2. Yang Menggunakan Bidang Proyeksi

    Bidang datar
    Bidang kerucut
    Bidang silinder

Gambar

1.3.2.2. Proyeksi Universal Transverse Mercator (UTM)
Proyeksi UTM dibuat oleh US Army sekitar tahun 1940-an. Sejak saat itu proyeksi ini menjadi standar untuk pemetaan topografi

1.3.2.2.1. Sifat-sifat Proyeksi UTM

    Proyeksi ini adalah proyeksi Transverse Mercator yang memotong bola bumi pada dua buah meridian, yang disebut dengan meridian standar. Meridian pada pusat zone disebut sebagai meridian tengah.
    Daerah di antara dua meridian ini disebut zone. Lebar zone adalah 6 sehingga bola bumi dibagi menjadi 60 zone.
    Perbesaran pada meridian tengah adalah 0,9996.
    Perbesaran pada meridian standar adalah 1.
    Perbesaran pada meridian tepi adalah 1,001.
    Satuan ukuran yang digunakan adalah meter.


1.3.2.2.2. Sistem Koordinat UTM

Gambar

Untuk menghindari koordinat negatif, dalam proyeksi UTM setiap meridian tengah dalam tiap zone diberi harga 500.000 mT (meter timur). Untuk harga-harga ke arah utara, ekuator dipakai sebagai garis datum dan diberi harga 0 mU (meter utara). Untuk perhitungan ke arah selatan ekuator diberi harga 10.000.000 mU.

Gambar

Wilayah Indonesia (90° – 144° BT dan 11° LS – 6° LU) terbagi dalam 9 zone UTM. Artinya, wilayah Indonesia dimulai dari zone 46 sampai zone 54 (meridian sentral 93° – 141° BT).

1.3.2.3. Metode Penentuan Posisi
Metode penentuan posisi adalah cara untuk mendapatkan informasi koordinat suatu objek di lapangan, contohnya koordinat titik batas, koordinat batas persil tanah dan lain-lain. Metode penentuan posisi dapat dibedakan dalam dua bagian, yaitu metode penentuan posisi terestris dan metode penentuan posisi extra-terestris (satelit).
Pada metode terestris, penentuan posisi titik dilakukan dengan melakukan pengamatan terhadap target atau objek yang terletak di permukaan bumi. Beberapa contoh metode yang umum digunakan adalah:

    Metode poligon.
    Metode pengikatan ke muka.
    Metode pengikatan ke belakang.
    Dan lain-lain.


Pada metode ekstra terestris, penentuan posisi dilakukan berdasarkan pengamatan terhadap benda atau objek di angkasa seperti bintang, bulan, quasar dan satelit buatan manusia. Beberapa contoh penentuan posisi extra terestris adalah sebagai berikut:

    Astronomi geodesi.
    Transit Dopler.
    Global Positioning System (GPS).
    Dan lain-lain.

1.3.3. Sistem Koordinat
Posisi suatu titik biasanya dinyatakan dengan koordinat (dua-dimensi atau tiga-dimensi) yang mengacu pada suatu sistem koordinat tertentu. Sistem koordinat itu sendiri dapat didefinisikan melalui spesfikasi tiga parameter berikut:

1.3.3.1. Lokasi Titik Nol dari Sistem Koordinat
Posisi suatu titik di permukaan bumi umumnya ditetapkan dalam/terhadap suatu sistem koordinat terestris. Titik nol dari sistem koordinat terestris ini dapat berlokasi di titik pusat massa bumi (sistem koordinat geosentrik), maupun di salah satu titik di permukaan bumi (sistem koordinat toposentrik).

1.3.3.2. Orientasi dari Sumbu-sumbu Koordinat
Posisi tiga-dimensi (3D) suatu titik di permukaan bumi umumnya dinyatakan dalam suatu sistem koordinat geosentrik. Tergantung dari parameter-parameter pendefinisi koordinat yang digunakan. Ada dua sistem koordinat yang umum digunakan, yaitu sistem koordinat Kartesian (X,Y,Z) dan sistem koordinat Geodetik (L,B,h), yang keduanya diilustrasikan pada gambar berikut.

Gambar

Koordinat 3D suatu titik juga bisa dinyatakan dalam suatu sistem koordinat toposentrik. Umumnya dalam bentuk sistem koordinat Kartesian (N,E,U) yang diilustrasikan pada gambar berikut.

Gambar

Parameter-parameter (kartesian, curvilinear) itu digunakan untuk mendefinisikan posisi suatu titik dalam sistem koordinat tersebut. Posisi titik juga dapat dinyatakan dalam 2D, baik dalam (L,B), ataupun dalam suatu sistem proyeksi tertentu (x,y) seperti Polyeder, Transverse Mercator (TM) dan Universal Transverse Mercator (UTM).

1.3.4. Metode Penentuan Posisi Global (GPS)
GPS adalah sistem navigasi dan penentuan posisi menggunakan satelit yang dikembangkan dan dikelola oleh Departemen Pertahanan Amerika Serikat. GPS dapat memberikan informasi tentang posisi, kecepatan dan waktu di mana saja di muka bumi setiap saat, dengan ketelitian penentuan posisi dalam fraksi milimeter hingga meter. Kemampuan jangkauannya mencakup seluruh dunia dan dapat digunakan banyak orang setiap saat pada waktu yang sama (Abidin,H.Z, 1995). Prinsip dasar penentuan posisi dengan GPS adalah perpotongan ke belakang dengan pengukuran jarak secara simultan ke beberapa satelit GPS seperti gambar berikut:

Gambar

1.3.4.1. Sistem GPS
Untuk dapat melaksanakan prinsip penentuan posisi di atas, GPS dikelola dalam suatu sistem yang terdiri dari 3 bagian utama, yaitu bagian angkasa, bagian pengontrol dan bagian pemakai, seperti gambar berikut:

Gambar

1.3.4.1.1. Bagian Angkasa
Terdiri dari satelit-satelit GPS yang mengorbit mengelilingi bumi. Jumlah satelit GPS adalah 24 buah. Satelit GPS mengorbit mengelilingi bumi dalam 6 bidang orbit dengan tinggi rata-rata setiap satelit ± 20.200 Km dari permukaan bumi.

Gambar

Setiap satelit GPS secara kontinu memancarkan sinyal-sinyal gelombang pada 2 frekuensi L-band (dinamakan L1 dan L2). Dengan mengamati sinyal-sinyal dari satelit dalam jumlah dan waktu yang cukup, kemudian data yang diterima tersebut dapat dihitung untuk mendapatkan informasi posisi, kecepatan maupun waktu.

1.3.4.1.2. Bagian Pengontrol
Adalah stasiun-stasiun pemonitor dan pengontrol satelit yang berfungsi untuk memonitor dan mengontrol kelayakan satelit-satelit GPS. Stasiun kontrol ini tersebar di seluruh dunia, seperti di Pulau Ascension, Diego Garcia, Kwajalein, Hawai, dan Colorado Springs. Di samping memonitor dan mengontrol fungsi seluruh satelit, ia juga berfungsi menentukan orbit dari seluruh satelit GPS.


Gambar

1.3.4.1.3. Bagian Pengguna
Adalah peralatan (Receiver GPS) yang dipakai pengguna satelit GPS, baik di darat, laut, udara
maupun di angkasa. Alat penerima sinyal GPS (Receiver GPS) diperlukan untuk menerima dan
memproses sinyal-sinyal dari satelit GPS untuk digunakan dalam penentuan posisi, kecepatan,
maupun waktu.
Secara umum receiver GPS dapat diklasifikasikan sebagai berikut:

    Receiver militer
    Receiver tipe navigasi
    Receiver tipe geodetik

1.3.4.2. Metode-metode Penentuan Posisi dengan GPS
Pada dasarnya konsep dasar penentuan posisi dengan satelit GPS adalah pengikatan ke belakang dengan jarak, yaitu mengukur jarak ke beberapa satelit GPS yang koordinatnya telah diketahui. Perhatikan gambar berikut :

Gambar

Prinsip Dasar Penentuan Posisi dengan GPS (sumber Abidin H.Z)
Penentuan posisi dengan GPS dapat dikelompokan atas beberapa metode, di antaranya:

    Metode absolut,
    Metode relatif (differensial).


1.3.4.2.1. Metode Absolut
Penentuan posisi dengan GPS metode absolut adalah penentuan posisi yang hanya menggunakan sebuah alat receiver GPS. Karakteristik penentuan posisi dengan cara absolut ini adalah sebagai berikut:

    Posisi ditentukan dalam sistem WGS 84 (terhadap pusat bumi).
    Prinsip penentuan posisi adalah perpotongan ke belakang dengan jarak ke beberapa satelit sekaligus.
    Hanya memerlukan satu receiver GPS.
    Titik yang ditentukan posisinya, bisa diam (statik) atau bergerak (kinematik).
    Ketelitian posisi berkisar antara 5 sampai dengan 10 meter.


Aplikasi utama metode ini untuk keperluan navigasi. Metode penentuan posisi absolut ini umumnya menggunakan data pseudorange. Namun metode ini tidak dimaksudkan untuk aplikasi-aplikasi yang menuntut ketelitian posisi yang tinggi.

1.3.4.2.2. Metode Relatif (Differensial)
Yang dimaksud dengan penentuan posisi relatif atau metode differensial adalah menentukan posisi suatu titik relatif terhadap titik lain yang telah diketahui koordinatnya. Pengukuran dilakukan secara bersamaan pada dua titik dalam selang waktu tertentu. Selanjutnya, data hasil pengamatan diproses dan dihitung sehingga akan didapat perbedaan koordinat kartesian 3 dimensi (dx, dy, dz) atau disebut juga dengan baseline antar titik yang diukur.

Karakteristik umum dari metode penentuan posisi ini adalah sebagai berikut:

    Memerlukan minimal dua receiver, satu ditempatkan pada titik yang telah diketahui koordinatnya.
    Posisi titik ditentukan relatif terhadap titik yang diketahui.
    Konsep dasar adalah differencing process, dapat mengeliminir atau mereduksi pengaruh dari beberapa kesalahan dan bias.
    Bisa menggunakan data pseudorange atau fase.
    Ketelitian posisi yang diperoleh bervariasi dari tingkat mm sampai dengan dm.
    Aplikasi utama: survei pemetaan, survei penegasan batas, survei geodesi dan navigasi dengan ketelitian tinggi.


1.3.4.3. Ketelitian Penentuan Posisi dengan GPS

Penentuan posisi dengan GPS dipengaruhi oleh faktor-faktor sebagai berikut:

    Ketelitian data terkait dengan tipe data yang digunakan, kualitas receiver GPS, level dari kesalahan dan bias.
    Geometri satelit, terkait dengan jumlah satelit yang diamati, lokasi dan distribusi satelit dan lama pengamatan.
    Metode penentuan posisi, terkait dengan metoda penentuan posisi GPS yang digunakan, apakah absolut, relatif, DGPS, RTK dan lain-lain.
    Strategi pemrosesan data, terkait dengan real-time atau post processing, strategi eliminasi dan pengoreksian kesalahan dan bias, pemrosesan baseline dan perataan jaringan serta kontrol kualitas.


1.3.4.4. Aplikasi-aplikasi GPS
Beberapa aplikasi dari GPS di antaranya adalah sebagai berikut:

    Survei dan pemetaan.
    Survei penegasan batas wilayah administrasi, pertambangan dan lain-lain.
    Geodesi, Geodinamika dan Deformasi.
    Navigasi dan transportasi.
    Telekomunikasi.
    Studi troposfir dan ionosfir.
    Pendaftaran tanah, Pertanian.
    Photogrametri & Remote Sensing.
    GIS (Geographic Information System).
    Studi kelautan (arus, gelombang, pasang surut).
    Aplikasi olahraga dan rekreasi.




Sumber:

http://pelagis.net/download/Modul_ArcGIS_I.rar

diposkan oleh Articles Resume pada 01:33 0 Komentar
3. Komponen Pembentuk MapServer
Pengembangan MapSever sebagai sebuah aplikasi open source, banyak memanfaatkan aplikasi lain yang juga bersifat open source. Sedapat mungkin menggunakan aplikasi yang sudah tersedia jika memang memenuhi kebutuhan untuk menghemat sumber daya dan waktu pengembangan

3.1 Komponen Untuk Akses Data Spasial
Komponen pada kelompok ini bertugas untuk menangani baca/tulis data spasial, baik yang tersimpan sebagai file maupun tersimpan pada DBMS

    Shapelib
    Shapefile merupakan library yang ditulis dalam bahasa C, untuk keperluan baca/tulis format data Shapefile (*.SHP) yang didefinisikan ESRI (Enviromental System Research Institute). Format Shapefile umum digunakan oleh berbagai aplikasi Sistem Informasi Geografik untuk menyimpan data vector simple (tanpa topologi) dengan atribut. Pada MapSever, format data Shapefile merupakan format data default.
    GDAL/OGR
    GDAL (Geographic Data Abstraction LibraryI) merupakan library yang berfungsi sebagai penerjemah untuk berbagai format data raster. Library ini memungkinkan abstraksi untuk semua format data yang didukung, sehingga beragam format data tadi akan terlihat sebagai sebuah data model abstrak. Keberadaan data model abstrak tunggal akan memudahkan pengembang aplikasi karena dapat menggunkan antarmuka yang seragam untuk semua format data.. OGR merupakan library dengan fungsionalitas yang identik, untuk beragam format data vektor. Kode OGR sekarang ini digabung dalam kode library GDAL.



diposkan oleh Articles Resume pada 01:19 1 Komentar
Kamis, 21 Mei 2009
2. Pengenalan Mapserver
2.1 Pengenalan Mapserver

MapServer merupakan aplikasi freeware dan open source yang memungkinkan kita menampilkan data spasial (peta) di web. Aplikasi ini pertama kali dikembangkan di Universitas Minesotta, Amerika Serikat untuk proyek ForNet (sebuah proyek untuk menajemen sumber daya alam) yang disponsori NASA (Nasional Aeronautics and Space Administration). Dukungan NASA dilanjutkan dengan dikembangkan proyek TerraSIP untuk menajemen data lahan. Saat ini, karena sifatnya yang terbuka (open source), pengembangan MapServer dilakukan oleh pengembang dari berbagai negara

Pengembangan MapServer menggunakan berbagai aplikasi open source atau freeware seperti Shapelib untuk baca/tulis format data Shapefile, FreeType untuk merender karakter, GDAL/OGR untuk baca/tulis berbagai format data vektor maupun raster, dan Proj.4 untuk menangani beragam proyeksi peta.

Pada bentuk paling dasar, , MapServer berupa sebuah program CGI (Common Gateway Interface). Program tersebut akan dieksekusi di web server dan berdasarkan beberapa parameter tertentu (terutama konfigurasi dalam bentuk file *.MAP) akan menghasilkan data yang kemudian akan dikirim ke web browser, baik dalam bentuk gambar peta atau bentuk lain.

MapServer mempunyai fitur-fitur berikut :

    Menampilkan data spasial dalam format vektor seperti : Shapefile (ESRI), ArcSDE (ESRI), PostGIS dan berbagai format data vektor lain dengan menggunakan library OGR
    Menampilkan data spasial dalam format raster seperti TIFF/GeoTIFF, EPPL7 dan berbagai format data raster lain dengan menggunakan library GDAL
    Menggunakan quadtree dalam indexing data spasial, sehingga operasi-operasi spasial dapat dilakukan dengan cepat.
    Dapat dikembangkan (customizable), dengan tampilan keluaran yang dapat diatur menggunakan file-file template
    Dapat melakukan seleksi objek berdasar nilai, berdasar titik, area, atau berdasar sebuah objek spasial tertentu
    Mendukung rendering karakter berupa font TrueType
    Mendukung penggunaan data raster maupun vektor yang di-tiled (dibagi-bagi menjadi sub bagian yang lebih kecil sehingga proses untuk mengambil dan menampilkan gambar dapat dipercepat)
    Dapat menggambarkan elemen peta secara otomatis , skala grafis, peta indeks dan legenda peta
    Dapat menggambarkan peta tematik yang dibangun menggunakan ekspresi logik maupun ekspresi reguler
    Dapat menampilkan label dari objek spasial, dengan label dapat diatur sedemikian rupa sehingga tidak saling tumpang tindih
    Konfigurasi dapat diatur secara on the fly melalui parameter yang ditentukan pada URL
    Dapat menangani beragam system proyeksi secara on the fly


Saat ini, selain dapat mengakses MapServer sebagai program CGI, kita dapat mengakses MspServer sebagai modul MapScript, melalui berbagai bahasa skrip : PHP, Perl, Phyton atau Java. Akses fungsi-fungsi MapServer melalui skrip akan ebih memudahkan pengembangan aplikasi. Pengembang dapat memilih bahasa yang paling familiar.

2.2 Arsitektur Mapserver


Arsitektur Mapserver

Gb.1 Gambar arsitektur dasar dari aplikasi MapServer

Aplikasi mapserver sederhana terdiri dari:

    Map File - Konfigurasi tfile teks yang terstruktur untuk sebuah aplikasi mapserver. Mendefiniskan bentuk area peta, memberitahukan dimana data peta dan konfigurasi dan juga output gambar peta, dan temporary folder peta. Juga mendefinisikan informasi layer termasuk layer peta dan data atributnya, termasuk juga sumber data (data source), proyeksi dan penyimbolan (symbology). Ekstensi filenya harus berupa .map atau kalo tidak mapserver tidak akan bisa mengenalinya.

    See also

    MapServer Mapfile Reference

    Geographic Data - MapServer can utilize many geographic data source types. The default format is the ESRI shapefile. Many other data formats can be supported, this is discussed further below in Adding data to your site.

    See also

    Vector Input Reference and Raster Input Reference

    HTML Pages - the interface between the user and MapServer . They normally sit in Web root. In it’s simplest form, MapServer can be called to place a static map image on a html page. To make the map interactive, the image is placed in an html form on a page.

    CGI programs are ‘stateless’, every request they get is new and they don’t remember anything about the last time that they were hit by your application. For this reason, every time your application sends a request to MapServer, it needs to pass context information (what layers are on, where you are on the map, application mode, etc.) in hidden form variables or URL variables.

    A simple MapServer CGI application may include two html pages:

        Initialization File - uses a form with hidden variables to send an initial query to the http server and MapServer. This form could be placed on another page or be replaced by passing the initialization information as variables in a URL.

        Template File - controls how the maps and legends output by MapServer will appear in the browser. By referencing MapServer CGI variables in the template html, you allow MapServer to populate them with values related to the current state of your application (e.g. map image name, reference image name, map extent, etc.) as it creates the html page for the browser to read. The template also determines how the user can interact with the MapServer application (browse, zoom, pan, query).

        See also

        Templating

    MapServer CGI - The binary or executable file that receives requests and returns images, data, etc. It sits in the cgi-bin or scripts directory of the http server. The Web server user must have execute rights for the directory that it sits in, and for security reasons, it should not be in the web root. By default, this program is called mapserv

    HTTP Server - serves up the html pages when hit by the user’s browser. You need a working HTTP (Web) server, such as Apache or Microsoft Internet Information Server, on the machine on which you are installing MapServer.


Arsitektur aplikasi pemetaan di web dibagi menjadi dua pendekatan sebagai berikut :

    Pendekatan Thin Client
    Pendekatan ini menfokuskan diri pada sisi server. Hampir semua proses dan analisis data dilakukan berdasarkan request di sisi server. Data hasil pemrosesan kemudian dikirimkan ke klien dalam format standard HTML, yang di dalamnya terdapat file gambar dalam format standard (misalnya GIF, PNG atau JPG) sehingga dapat dilihat menggunakan sembarang web browser. Kelemahan utama pendekatan ini menyangkut keterbatasan opsi interaksi dengan user yan kurang fleksibel.

    Pendekatan Thick Client
    Pada pendekatan ini, pemrosesan data dilakuakn di sisi klien menggunakan beberapa teknologi seperti kontrol ActiveX atau applet. Kontrol ActiveX atau applet akan dijalankan di klien untuk memungkinkan web browser dengan format data yang tidak dapat ditangani oleh web browser dengan kemampuan standard. Dengan adanya pemrosesan di klien, maka transfer data antara klien dengan web server akan berkurang


MapServer menggunakan pendekatan thin client. Semua pemrosesan dilakukan di sisi sever. Informasi peta dikirinkan ke web browser di sisi klien dalam bentuk file gambar (JPG, PNG, GIF atau TIFF).

File dokumentasi MapServer lebih lengkap bisa diunduh http://www.mapserver.org/documentation.html

Sumber:

    http://student.eepis-its.edu/~syafur/IES/Syafur/buku_ta/Arifinbuku.doc
    Dokumentasi MapServer: http://www.mapserver.org/documentation.html
Previous
Next Post »
0 Komentar

Terimakasih telah berkomentar